Persiapan selesai. Tidak terlalu banyak
tentengan. Hanya sebuah tas gendong dan plastik berisi cemilan.
Masih jam 5 pagi dan Sekaran belum bangun
dari tidurnya. Hanya segelintir pengendara yang melintas sepanjang jalan Taman
Siswa. Pemandangan berbeda terlihat di depan BNI Unnes. Alih-alih sepi, BNI
Unnes justru ramai dibanjiri para Mahasiswa yang sangat antusias dengan
kegiatan tour ini. Tour disini maksudnya adalah Mak Iahan dan menghadiri
Macapat Syafaat di Jogja.
Kegiatan ini rutin dilakukan oleh Pak Ilyas, dosen
MKU PAI. Beliau mengajak seluruh Mahasiswa yang mengambil MKU di rombelnya
untuk mengikuti kegiatan akhir semester ini dengan biaya sekitar 160.000.
Panitia bersusah payah membariskan
kepala-kepala ini agar lebih mudah diabsen. Mereka adalah calon-calon yang akan
mendapat nilai A untuk mata kuliah ini. Pak Ilyas menjanjikan barang siapa yang
mau menjadi panitia, langsung dapat nilai A. Tapi tidak perlu khawatir bagi
yang bukan panitia. Pak Ilyas memang dosen yang bisa dibilang paling santai
tapi tidak menyantaikan. Beliau memperbolehkan kami tidak masuk dalam kelasnya tapi
tetap menghitungnya masuk. Selain itu kami sudah dijamin minimal akan
mendapatkan nilai B. Tak heran jika banyak Mahasiswa yang ingin mencari-cari
rombel dimana Pak Ilyas mengajar.
Tiga
jam berlalu. Bis yang ditunggu baru datang. Penempatan tempat duduk sesuai
dengan urutan rombel. Rombel satu adalah bis A. Kududuki kursi keempat sebelah
kanan agar tidak terlalu dibelakang. Pemandangan di luar terlihat buram dari
kaca-kaca yang mengembun. AC yang dihidupkan membuat udara di dalam lebih
dingin dibanding di luar.
Perjalananpun dimulai. Berangkat ke arah Ungaran
dan berjalan terus ke selatan memutari perbukitan. SubhanAllah. Ciptaan Allah
begitu indah. Sawah-sawah menghijau bak sajadah bumi yang tergelar. Langit
membiru ditemani senyum mentari pagi dan awan putih yang menari-nari. Lagu-lagu
pop dari CD tak ketinggalan meramaikan suasana.
Sebelum sampai di Jogja, melewati Kota
Sejuta Bunga, Magelang. Benar-benar seribu bunga. Hampir di sepanjang kanan
jalan dibuat taman dengan bunga-bunga yang mewarnai. Satu hal yang unik adalah tugu
persimpangan yang terbuat dari susunan pot-pot yang berisi tumbuhan hijau. Ada tulisan Kota Seribu Bunga yang terbuat pula
dari susunan pot-pot tumbuhan hijau. Bupati Magelang sepertinya menunjukkan
aksi nyata untuk kotanya.
Jarum pendek masih menunjuk angka 11. Bis sudah
menghentikan langkahnya di sebuah Restoran. Rasanya perut ini masih penuh
karena pada awal pemberangkatan tadi sudah ada pembagian makanan dan air
mineral. Antrian kamar mandi masih saja mengular padahal baru beberapa jam yang
lalu transit di SPBU. Cuaca dingin rupanya membuat sistem eksresi dari kulit
dialihkan pada ginjal.
Disisi lain, seolah tak mau kalah dengan
kamar mandi, antrian pengambilan makanan menjalar semakin panjang. Satu dari
dua tempat yang disediakan terpaksa ditutup karena isinya sudah habis diserbu
massa. Perjuangan untuk mendapatkan nasi, sayur kacang, ayam, kering tempe,
semangka, krupuk dan teh hangat tidak sia-sia. Makan bersama devi, silvi, novi,
ainun, eka dan seorang teman lainnya dalam satu menja bundar. Setelah
memanjakan perut , kini saatnya mengajaknya olahraga sekaligus olahjiwa dengan
sholat Dhuhur berjamaah.
Jam 1 menuju ke pondok Mak Iah. Apaan si
sebenernya? Cuma ada materi dan tanya jawab tentang cara menjadi pendidik, cara
mendidik, sekolah anak alam dan sekilas tentang Mak Iah. Masih enggak ngerti
kok. Mendengarkan juga sambil ngantuk-ngantuk.
Menginjak waktu asar, langsung otw ke
Malioboro. Sejenak memanjakan diri dengan berburu cinderamata khas Jogja. Alokasi
waktu untuk sholat dan belanja hanya 2 jam. Dari setengah 4 harus kumpul lagi
di tempat penurunan atau tempat parkir bus pukul 17.30. Sholat dulu di Musholla
apa ya? Ah lupa. Masih nunggu ada yang ngantri pipis juga.
Pertama kalinya melihat meriahnya jalan Malioboro.
Sepanjang jalan semuanya penjual, mulai yang punya toko, pedagang kaki lima
sampai lesehan. Kalau tidak hati-hati menawar dan menata hati untuk beli
seperlunya saja, pastilah seberapapun isi kantong langsung ludes waktu itu
juga.
Sasaran pertama, beli kaos Jogja titipannya
Lina. Untuk memilih warna dan ukuran saja sudah cukup menguras waktu. Dapat
warna hijau harga 15 ribu. Kemudian berpindah ke penjual aksesoris. Beli 7
gelang yang ada tulisannya friend forever. Untuk aku, adik, arum, lisa, mela,
lina. Silvi dan devi sepertinya sangat berminat denngan aksesoris. Mereka beli
kalung juga. Yang tidak boleh ketinggalan adalah beli tas. 2 tas bertuliskan Jogja
tapi yang biasa, warna putih. Harga satuan 15 ribu pas. Novi memborong 4 tas
untuk oleh-oleh teman kosnya. Tertarik beli sandal Jogja. Pengen couplean.
Baguse warna coklat krem, tapi gak ada pasangane. Akhirnya setelah
berpusing-pusing memilih warna, ukuran, dan bentuk yang sesuai, sandal jogja
warna pink dan ungu pun terbeli. 30 ribu 2 pasang. Udah banyak sekali ini. Yuk
balik aja. Tidak lupa foto di depan tulisan Jln. Malioboro dengan kameranya
Novi. Ngantri sama turis yang lain. Oleh-oleh untuk teman di kos, aku sama
silvi beli bakpia. Mbungkus satu juga buat orang rumah. Gelang untuk hana, lina
dan nurul tidak ketinggalan.
Waktu sudah menunjukkan jam 6 sore. Harus
segera kembali. Tapi dimana bis kami? Ada ribuan bis berjejer di parkiran ini.
Yang membuat prihatin adalah masalah sampah. Sampah dus makan dibuang begitu
saja disamping bis. Apakah nanti akan dibuang lagi, atau tetap disitu? Itu
sangat mengganggu perjalanan dan pemandangan.
Setelah menemukan bis kami, ternyata masih
sepi. Hanya segelintir orang yang bercuap-cuap di dalam. Setidaknya ada sedikit
waktu untuk melepas lelah. Sudah kumpul semua, kita tancap ke tempat makan yang
tadi siang. Disini cukup lama. Untuk sholat magrib sekalian sholat isya juga,
makan, pipis dan istirahat sampai jam 8 malam.
Semuanya sudah. Siap menuju Macapat
Syafaat. Melewati pemukiman warga. Banyak yang menjual kacang rebus dan jajanan
lain di depan rumahnya. Bukan dengan lampu, melainkan dengan obor atau lilin
sebagai penerangan. Nuansa mistik menyelimuti perasaan ini. Dalam hati
bertanya-tanya? Sebenarnya acara semacam apa ini?
Di sebuah pelataran rumah, terlihat
pencahayaan yang lebih terang dari lainnnya. Bahkan bisa dikatakan paling
terang. Disana sudah ada panggung, beberapa alat musik, terpal dan tikar besar.
Dengan jaket almamater kuning, kami memenuhi tempat duduk lesehan itu. Suasana
yang tidak nyaman. Banyak orang-orang merokok.
Beberapa saat kemudian, ketika pelataran
rumah itu cukup penuh dengan kerumunan orang, para pemusik menaiki panggung dan
mempersembahkan sebuah lagu. Entah apa namanya ini. Terbangan? Gamelan? Band?
Perpaduan yang sangat indah dari beberapa aliran alat musik. Ada rebana,
gamelan, biola juga. Permainan dari Kyai Kanjeng ini mampu membangkitkan
jiwa-jiwa yang mengantuk.
Menjelang tengah malam, persiapan menyambut
kehadiran Cak Nun. Pendapatku, sikap Pak Ilyas nampaknya meniru gaya Cak Nun.
Selain Cak Nun ada juga Cak Sabrang, vokalis grub band Letto, sebagai
pembicaranya dengan gaya yang tak mau kalah seperti Cak Nun. Satu motivasi yang
paling aku ingat adalah seperti ini, “Ketidaktahuan terhadap masa depan adalah
rahmat Tuhan yang paling tinggi karena jika kamu mengetahuinya, maka kamu akan
saling merekayasa”.
Sudah 2 jam lewat dari tengah malam.
Saatnya untuk pamit. Menengok kebelakang, banyak sekali penontonnya. Ada yang
berdiri, duduk di motor, dan ada juga yang lesehan di sekitar rumah penduduk.
Asap rokok semakin liar mengepul diantara sorot lampu.
Perjalanan malam yang melelahkan. Tidur di
dalam bis membuat semua otot terasa kaku. Matahari belum memperlihatkan
sorotnya. Hawa dingin kota semarang menusuk tulang. Satu hari penuh perjalan di
Jogja yang menakjubkan.









0 komentar:
Post a Comment